
Pantauan di lapangan menunjukkan, sampah rumah tangga masih kerap dibuang sembarangan di badan dan bahu jalan.
Nuansaindonews.com,Medan|- Labuhanbatu Tumpukan sampah yang masih terlihat di sejumlah pinggir jalan di wilayah Kabupaten Labuhanbatu menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Kondisi ini diduga kuat akibat masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, meskipun pemerintah daerah telah menyediakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Jalan Aek Paing.
Pantauan di lapangan menunjukkan, sampah rumah tangga masih kerap dibuang sembarangan di badan dan bahu jalan. Padahal, keberadaan sampah yang berserakan tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak serius seperti pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, hingga menjadi sumber penyakit.
Menanggapi persoalan tersebut, Mahasiswa Universitas Labuhanbatu (ULB) dari Fakultas Hukum (Roy, Michael, Nasaruddin) mengajak seluruh masyarakat Labuhanbatu untuk meningkatkan kesadaran diri dalam mengelola sampah dengan baik dan benar.
Menurut mereka, permasalahan sampah bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
“Sampah yang berserakan dapat menimbulkan banyak dampak negatif bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kesadaran harus dimulai dari diri sendiri,” ujar ketiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Labuhanbatu. Minggu (18/01/2026) di Rantau Perapat.
Lebih lanjut, ketiga mahasiswa yang tengah duduk di semester V FH tersebut menjelaskan bahwa sampah sebenarnya dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan apabila dikelola dengan baik.
Sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan, dapat diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat untuk media tanam di pekarangan rumah.
Sementara itu, sampah non organik seperti plastik, botol, dan kertas dapat didaur ulang atau dijual kembali sehingga memiliki nilai ekonomis.
Ketiga Mahasiswa ULB itu juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap konsep pengelolaan sampah melalui tiga langkah utama, yakni kenal, pilah, dan olah.
Pertama, masyarakat harus mengenal jenis-jenis sampah, mulai dari sampah organik, non organik, hingga sampah medis.
Kedua, masyarakat diharapkan mampu memilah sampah sesuai dengan jenisnya.
Ketiga, masyarakat didorong untuk mengolah sampah agar dapat dimanfaatkan kembali dan tidak menjadi limbah yang mencemari lingkungan.
Dalam pesannya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Labuhanbatu juga menyampaikan sebuah refleksi moral kepada masyarakat.
Menurut mereka, ada satu jenis sampah yang sama sekali tidak bermanfaat, yaitu “sampah mental yang berdampak buruk pada pikiran kita sendiri”.
“Jika pola pikir kita masih menganggap sampah sebagai hal sepele dan membuangnya sembarangan, maka itu juga menjadi sampah dalam pikiran kita. Mari kita ubah pola pikir dan mulai peduli terhadap lingkungan,” tegasnya.
Mahasiswa itu berharap kesadaran masyarakat Labuhanbatu semakin meningkat, sehingga lingkungan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk generasi sekarang maupun yang akan datang.
"Mari jaga, "Labuhanbatu Bersih Sehat Bebas Dari Sampah" tandas mereka menciptakan slogan ide baru. ( sumber tim FH )
( ZD )